SALAHKAH DIAM?

SALAHKAH DIAM?

Hallo, selamat datang di postingan pertamaku. Kali ini aku mau beropini tentang “Salahkah Diam”. Sebenarnya judul itu aku ambil dari pengalamanku.  Mungkin bagi beberapa orang pernah ngalamin hal yang sama kayak aku. Sering banget aku mendapati pertanyaan seperti ini “Eh, kamu ngomong dong, masa dari tadi diem mulu?”. Satu hal yang terlintas di pikiranku, “Padahal dari tadi aku juga ngomong meskipun ngga banyak”. Tapi kenapa bisa temenku menyampaikan hal kayak gitu? Aku juga merenungi apa yang temenku katakan diatas tadi, mungkin karena frekuensi pembicaraanku yang dikit jadi terkesan cuek dan ngga peduli. Makanya aku dicap sama temenku sebagai orang pendiam (*maaf kalo agak ngga nyambung). Terkadang kesel dan capek juga dikritik seperti itu. Sebuah kritikan itu memang diperlukan tetapi akan lebih ngefek kalo kritikan itu bersifat membangun bukan menjatuhkan. Itu akan berdampak buruk bagi psikis dan fisik orang. Itu karena kita ngga pernah tau pikiran masing-masing orang (*kecuali yang bisa baca pikiran).  
Ketika dicap orang pendiam sebenarnya bukan karena aku ngga mau ngomong tapi kalo bisa menjadi pendengar yang baik dan memberikan respon balik yang memang berguna dan membantu. Why not? Ketika dalam suatu kelompok sedang membicarakan suatu hal dan aku juga ikut terlibat dalam pembicaraan itu, bukan berarti setiap orang harus mengutarakan apa yang dia ketahui dan tidak diketahui orang lain, bukan berati setiap orang harus menanggapi apa yang dikatakan orang lain. Selama pembicaraan itu tidak nyleneh dan aneh-aneh. Mungkin tidak ada salahnya kan? (Ini keliatan aku cuek banget ya)
Nah, kalo pembicaraan udah mulai nglantur dan ngga sejalan dengan apa yang aku pikirkan, aku akan mengutarakannya. Jadi, aku adalah seorang introvert. Aku sering mikir kalo introvertku parah banget. Sampe ada salah satu temenku yang bilang kalo aku “Psychopath”. Ini lebih parah daripada dicap pendiam. Marah? Udah pasti tapi percuma kalo dijelasin, ujung-ujungnya debat dan masalahnya jadi tambah lebar (*i dont like it). Kejadian pas aku dibilang psychopath itu terjadi ketika aku SMA.
Tapi aku coba untuk melatih sesering mungkin berkomunikasi dengan orang (*maksudnya orang yang dikenal). Kesan pertama temenku ketika ketemu dan ngobrol sama aku bahwa aku adalah tipikal orang pendiam. Memang aku mengakui kalo memang irit bicara. Tapi bukan berarti kalo aku ngga mau ngomong. Aku jarang ngomong dengan orang yang belum membuatku nyaman. Temenku yang sudah mengenalku bahkan bilang kalo aku banyak bicara. Disini aku mau meng-clear-kan kalo aku memang banyak bicara terhadap orang yang membuatku nyaman. Udah pasti aku bakal banyak cerita tentang kehidupanku. Tentunya tidak semua diceritakan secara terang-terangan sampai ke ujung akar. Pastinya kita bisa memilih dan memilah dimana, kapan dan bagaimana terbuka terhadap seseorang terkait kehidupan sendiri.
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Jadi aku berusaha memahami hal itu bagaimana setiap orang bersikap terhadapku dan menilaiku. Pernah terpikir “kenapa banyak banget extrovert di sekelilingku? Andai aja di dunia ini diisi oleh orang-orang introvert.” Pemikiran itu muncul ketika aku masih SMP kelas 1. Maklum aja waktu itu aku terpisah dari teman akrab SD jadi ketika memulai menjalin pertemanan baru dengan wajah-wajah baru, karakter baru, lingkungan baru, dan peraturan baru di SMP masih canggung dan kaku. Tapi seiring berjalannya waktu aku bisa mengurangi hal itu dan nggak bakal bisa terus-terusan berdiam diri dan menyendiri. Manusia adalah makhluk sosial. Jadi  mau ngga mau harus bisa bangkit dan bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Terutama teman di kelas. Seiring berjalannya waktu, aku bisa mengatasi hal itu (*sikapku yang pendiam). Pada intinya diam tidak selamanya baik karena dengan diam suatu perubahan yang kecil hingga besar akan sangat berpengaruh terhadap lingkungan di sekitar kita. Diam itu punya sisi putih dan hitam. Jadi ada saatnya kamu menyuarakan apa yang kamu pikirkan, ide, gagasan, pendapat di saat yang tepat. Bukan cuma koar-koar ngomong ngga jelas dan ngga ada faedahnya. Akan lebih menghemat energi kalo kamu menyampaikan suatu topik yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

-Sekian
(*maaf ya kalo alur nya kurang menarik dan kalimatnya monoton. Maklum masih belajar)
Semoga postinganku bermanfaat


Terima kasih bagi yang menyempatkan waktu untuk membaca postinganku ini yang masih amatiran (:D)