MOOD #2

Gerumulan Di Pikiran


Setiap aku melihat sesuatu atau mendengar suatu hal. Selalu saja terbesit di pikiranku dengan mengaitkan segala sesuatu yang kemudian menjadi sebuah naskah di otakku. Terkesan berlebihan menyebutnya sebagai naskah. Tapi setiap kali aku kepikiran akan suatu kejadian atau apa yang aku dengar. Secara spontan, pikiranku seolah olah sedang bercerita sesuatu yang berkaitan dengan hal itu dan merangkai kata-kata yang bisa dipadukan jadi beberapa kalimat yang harus dituangkan entah dalam bentuk tulisan atau gambar. Meskipun gambarku tidak terdefinisi alias buruk dan rangkaian kata yang kubuat juga belum sempurna. 

Aku merasa terusik jika rangkaian kata yang aku pikirkan tidak diwujudkan dalam arti tertulis. Perasaan lega akan muncul ketika aku berhasil menuliskannya. 

Kata-kata itu seolah olah mengejarku terus menerus. Dan itu membutaku stress sesaat. Kemudian digantikan dengan kata lain yang bahkan mungkin kata-kata sebelimnya belum tertulis. Semakin menumpuk semakin kepikiran. Sekeras apapun aku berusaha mengalihkannya tetap saja akan muncul kembali. Jadi lebih baik aku menuliskannya. That's make me feel so free. *After that//I write it*

Mungkin tulisan kali ini terlihat tidak rapih dan berantakan. But,... i don't care



Sudut Pandang Ayah

Pembelaan yang Tertolak


Kejadian itu bermula saat aku sedang ada diskusi dengan beberapa teman. Itu merupakan diskusi dadakan yang bahkan aku tak tahu jika akan berujung dengan luapan amarah dari masing masing personal. Siapa yang tahu jika hari itu akan menunjukkan sisi sesungguhnya dari seorang leader? Wah.... sungguh di luar dugaanku.

Setiap permasalahan bisa dibicarakan baik-baik tanpa perlu dengan berteriak keras dan menunjukkan kekuasaan orang tersebut. Ironi sekali melihat seseorang berlagak seperti itu.

Ketika seseorang dalam kondisi marah dan berteriak juga seolah olah dirinya membuktikan sebagai orang yang paling kuat dan ditakuti. Menurutku tidak tampak seperti itu tetapi malah terlihat seperti orang yang menyedihkan.

Suatu waktu, aku menceritakan kejadian itu pada ayahku. Sungguh di luar pemikiranku. Aku berharap jika ayahku akan membelaku dan mendukung pendapatku. Tetapi, sebaliknya ayahku hanya mengatakan bahwa " itulah kehidupan". "Hidup tidak hanya mengenal satu atau dua orang, satu desa atau lain desa, tetapi lebih dari. Setiap hari, bertemu dengan orang dan berinteraksi dengan orang. Setiap orang punya karakter yang berbeda. Itulah hal yang menguji setiap orang. Bagaimana cara kita menanggapi karakter orang yang berbeda. Itulah hal yang akan menjadi pelajaran hidup". Kurang lebih ayahku berkata demikian.

Aku mengira, ayahku akan berada di pihakku dan akan mengkritik orang yang aku ceritakan. Tetapi dugaanku salah besar. Ayahku justru menasehatiku. Bahwa itu adalah bagian dari kehidupan.

Sepertinya, kejadian saat itu menjadi secuil pelajaran baru yang aku dapatkan.

KARTU KEBERUNTUNGAN

PENERIMAAN


Setiap orang mempunyai kartu keberuntungan masing-masing. Akan tetapi, disaat kartu itu tidak berfungsi dengan semestinya. Pikiran-pikiran aneh dan negatif muncul begitu saja hingga bisa merusak mood seseorang. Perasaan tidak adil dan kecewa tentu sangat tidak menyenangkan ketika hadir diwaktu yang tidak tepat. Pastinya.... tidak seorang pun yang menginginkan kondisi seperti itu. Justru sebaliknya. Namun, jika terlalu menampakkan wajah murung dan sedih tentu hal itu menjadi bentuk kekalahan terhadap keadaan. Padahal hidup harus terus  berjalan seperti roda yang berputar. Tidakkah kita menyadari bahwa saat itu kita seperti seorang pecundang. Menyerah tanpa mengerahkan segala tenaga untuk berjuang melawan amarah yang bisa berujung dengan keserakahan? Haruskah kita bersikap seperti itu? Sadarlah.... bahwa hidup terlalu mudah untuk mengalah sekarang ini. Masih ada banyak hal yang harus dibenahi. Terutama diri sendiri. Janganlah terlalu berlarut-larut dengan keadaan yang begitu memuakkan dan berakhir dengan penyesalan. Memang... hidup tidak lah mudah. Tetapi..., hidup akan menjadi mudah tergantung dengan cara pandang kita dalam menghadapi setiap keadaan yang menyesakkan. 

Ketika kita mencoba untuk mengubah sudut pandang itu. Tentunya kita harus sudah menerima segala hal yang tidak menyenangkan saat itu. Cobalah bangun keyakinan pada diri sendiri, pastinya dibalik batu karang yang berderet-deret, padat dan gelap akan ada celah dimana kita bisa keluar dari benteng keterpurukan. Ya... kemungkinannya kartu keberuntungan tidak berfungsi disaat kita benar-benar membutuhkan. Terkadang kejadian-kejadian yang mengejutkan datang tanpa adanya kartu itu. Tapi, keyakinan, keigigihan, keikhlasan dan kemauan yang kuat bisa membantu mengancurkan benteng keterpurukan itu. Terlalu lama mendekam di dalamnya bisa menjadi kemunduran bagi diri sendiri. Waktunya untuk bangkit dan menyingkirkan segala ego dalam diri. 

Kartu keberuntungan bukanlah suatu hal yang bisa diandalkan. Hidup tidak selalu bergantung dengan keberuntungan karena dibalik keberhasilan seseorang ada doa yang terus diucapkan dengan rasa tulus, ikhlas dan tawakal juga tidak luput dengan kerja keras yang setiap waktu dilakukan untuk mencapai hasil yang sesuai harapan.

Ya... mungkin wajar jika sebagai manusia terkadang ada perasaan iri ketika ada orang lain mendapatkan kebahagiaan atau keberhasilan. Namun, jika perasaan itu terus dipelihara dan tidak terkontrol justru bisa menjadikan diri sendiri sebagai manusia yang kurang bermartabat.