LIKE ZOMBIE?

HIDUP BERASA ZOMBIE


Dulu pas aku masih semester 1, belum banyak mata kuliah yang harus diambil. Seperti yang kalian tahu (*kalo udah tau hhe), awal kuliah semester 1 itu sistem sks nya masih paket, dan materi kuliahnya hampir sama materi SMA hanya saja lebih mendalam lagi. Di waktu itulah aku merasa hidup bagaikan zombie... hahaha. Mungkin ada juga beberapa temenku yang merasakan hal yang sama sepertiku sebagai mahasiswa kupu-kupu (Kuliah-pulang, Kuliah-pulang). Awalnya memang menyenangkan karena habis selesai kuliah lalu pulang, habis itu nonton drakor (*marathon drakor). Berasa hidup ngga berfaedah banget (*hish). Lama-kalamaan aktivitas kesehariabku yang kayak gitu jadi membosankan. Hidupku berasa kaku. Yahh... karena kegiatan kesehariannya itu-itu doang. Kuliah-beli makan-pulang-tidur-nonton drakor-ngerjain tugas kalo ada tugas- belajar kalo mau uts/uas doang. Sangat membosankan sekali. Berasa ngga hidup.

Ketika udah memasuki semester 2-3 banyak mata kuliah yang diambil dan mulai ada sks praktikum juga yang wajib diambil. Seiring berjalannya waktu aku mulai disibukkan dengan aktivitas yang berbeda dan padat dari semester sebelumnya. Aku mulai merasakan suasana kuliah yang berbeda karena banyaknya aktivitas kuliah. (note : bukan karena organisasi tapi banyak tugas dan praktikum *hwe). Banyaknya tugas dan praktikum membuatku begadang hampir tiap hari. Aku merasa lelah sampe mata keliatan item kayak panda. Oke.... sistem begadang mulai berlaku sejak semester 2. Sampai aku merasa aku balik lagi kayak zombie. Mungkin udah keliatan kayak zombie beneran. Menjalankan aktivitas yang padat daripada semester sebelumnya. Berjalan kesana kemari seperti sudah diatur untuk melakukan aktivitas itu terus menerus. Pernah sampe lupa aku ada di kelas apa dan masuk kelas mana (*hahah). Mungkin saking banyaknya pikiran yang bergerumulan di otakku. Hingga akhirnya ingatan-ingatan yang ringan dan sederhana aja lupa. Hm... kadang temenku sampe heran. Nama temen sendiri juga lupa. Seketika seperti orang amnesia sementara waktu. Habis itu sadar lagi dan ketawa sendiri (*yaelahh kayak orang gila). 

Aku sudah mulai terbiasa sekarang dengan banyaknya aktivitas kuliah di semester sekarang ini. Mungkin saat semester 2 sebagai permulaan dan penyesuaian menghadapi aktivitas kuliah yang lebih padat lagi kedepannya. Sekarang aku sudah bisa mengatur waktu dengan baik. Yahhh.... meskipun terkadang agak keteteran juga karena ada beberapa aktivitas yang lumayan susah diatur dan di luar perencanaan. Begadang masih jadi tradisi sampe semester sekarang ini. Mungkin karena udah kebal jadi efek-efek zombie sudah mulai rada memudar (*semoga begitu).


Oke.... sekian cerpen gaje nan membosankan.... semoga menikmati ocehan tulisanku yang ngga jelas ini. (*hehe)

Aku Tidak Mengerti

Aku Tidak Mengerti




Aku tidak tau harus memulai dari mana. Ketika semua orang bahagia terhadap orang-orang disekelliling mereka. Aku tau tidaklah tepat jika aku memikirkan bahwa aku salah satu orang yang tidak berguna dan selalu menyusahkan banyak orang. Terkadang aku berpikir jika aku tidak mempunyai seorang teman. Teman yang benar-benar bisa membuatku nyaman dan mau mendengarkan segala keluh kesahku. Aku takut ketika aku tidak mempunyai seorang teman. Benar-benar seorang teman. Apakah kalian mengerti maksudku?. Tidak seharusnya aku berpikiran jika aku tidak punya teman. aku yakin betul kalo aku punya teman. dan tentunya aku tidak sendirian. Aku punya Allah, aku punya keluarga, aku punya sahabat. Akan tetapi, kenapa di suatu waktu tertentu aku merasa sendiri? Seolah-olah aku tidak memiliki siapapun di dunia ini. Aku harus bertahan sendiri melalui hari-hariku yang terkadang membuat mood-ku tidak stabil. Aku tau tidak pantas ketika berpikir seperti itu. Aku harap pikiranku terhadap kesendirianku tidak terus menerus menyelimuti diriku. Ingin rasanya aku menangis akan suatu hal yang tidak aku mengerti. Entahlah perasaan semacam apa itu ketika aku dilanda perasaan semacam itu. Aku sungguh membenci pemikiran bahwa aku menjalani kehidupan sendiri. Namun, pikiran tersebut muncul tiba-tiba disaat yang tidak aku inginkan. 

Kecenderungan yang Manusiawi

Kecenderungan yang Manusiawi


Pernah ngga terpikir hampir sebagian apa yang dilakukan orang, dibicarakan, disukai orang termasuk dalam lingkaran kecenderungan. Menurut aku, kecenderungan tiap individu selalu ada. Misal, ketika aku menceritakan pada sahabatku kalo aku pengen punya banyak teman biar bisa menolerir semua sifat dan karakter manusia yang alamiah, tapi pada kenyataannya aku hanya bisa berteman dengan beberapa orang saja. Maksudnya aku berteman dengan orang yang benar-benar memiliki banyak kesamaan dengan diriku. Memang... dengan adanya orang-orang yang bisa membuat kamu merasa cocok artinya kamu bisa menjadi nyaman berteman dengan orang-orang itu. Padahal dengan banyak perbedaan karakter ketika kamu berteman dengan banyak orang. Mungkin sedikit demi sedikit bisa belajar untuk menolerir karakter manusia yang berbeda-beda

Terkadang ketika berteman dengan banyak orang ada saja hal-hal yang membuatku merasa tidak cocok untuk menjalin pertemanan dengan banyak orang. Meskipun aku bisa menutupi hal tersebut. Tidak mungkin juga ketika aku tidak menyukai salah satu orang terus aku ngomong langsung kalo aku ngga suka sama orang itu, misal si A orangnya dekil, kurus , item. That’s why aku mencoba untuk tidak mengatakan hal seperti itu karena bisa menimbulkan perdebatan. Dan aku sungguh tidak menyukai keributan.

            Contoh lain ketika aku tidak ingin ngrumpi atau membicarakan orang, baik tingkah laku, sifat dan  cara bicara. Padahal ada niat untuk tidak ngrumpi seperti itu. Alasan ngrumpi karena merasa kesal dan lelah jadi ujung-ujungnya ngrumpiin orang. Salah ngga menurut kalian ketika kita mencoba untuk menjadi orang yang tidak neko-neko. Jujur merasa kurang nyaman aja, pas udah selesai ngrumpiin jadi merasa bersalah meskipun di sisi lain merasa lega karena apa yang ingin diungkapkan jadi tersampaikan. (*note : pas ngrumpiin cerita sama sahabatku).

            Jadi kalo menurut pendapatku kecenderungan tiap orang sebenarnya sudah ada dalam satu paket di waktu yang sama. Misal si A berteman dengan si B karena sama-sama hobi menyanyi jadi otomatis si A akan lebih dekat dengan si B karena pembicaraan mereka bisa nyambung. Nah.. dalam pembicaraan itu pasti minimal ada subjek dan predikat yang menjadi bahan obrolan mereka. Contoh subjek C, predikat menyanyi. Pasti mereka akan beropini dari sudut pandang masing-masing terkait subjek daan objek itu. Baik dilihat dari sisi fisik si objek atau suara si objek ketika menyanyi. Nah... kecenderungan seperti itulah yang aku maksud. Manusia tidak bisa terlepas dari yang namanya kecenderungan. Kecenderungan itu hal yang alami dan lumrah menurutku. Kita bisa menolerir hal itu jika bisa memahami kecenderungan itu yang bagaimana dan dalam aspek apa.

Jika kecenderungan itu merupakan hal yang alamiah dan normal selama masih batas wajar dan ngga neko-neko. Mungkin itu masih bisa ditolerir. Namun, jika kecenderungan itu mengarah pada hal yang tidak baik, tidak sewajarnya dan tidak sepatutnya dilakukan. Tentu itu bukanlah kecenderungan yang bisa ditolerir bahkan termasuk yang perlu ditangani dikarenakan bisa membahayakan diri sendiri dan juga oraang yang berada di sekitarnya. Misal : orang yang tidak sengaja makan makanan yang ternyata mengandung narkoba tentu orang tersebut akan cenderung dan terus menerus mengonsumsi narkoba. Nah... inilah yang aku maksud untuk kecenderungan yang tidak bisa ditolerir.                     

            Sekian untuk topik kali ini. Cerita di atas sangat banyak opini yang subjektif jadi mohon maaf jika ada salah kata atau kalimat yang kurang pas di hati readers. Maaf juga kalo judul dan isinya kurang nyambung. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Terima kasih buat yang sudah menyempatkan membaca ceritaku.