Kecenderungan yang Manusiawi
Pernah ngga terpikir hampir sebagian apa yang dilakukan orang, dibicarakan, disukai orang termasuk dalam lingkaran kecenderungan. Menurut aku, kecenderungan tiap individu selalu ada. Misal, ketika aku menceritakan pada sahabatku kalo aku pengen punya banyak teman biar bisa menolerir semua sifat dan karakter manusia yang alamiah, tapi pada kenyataannya aku hanya bisa berteman dengan beberapa orang saja. Maksudnya aku berteman dengan orang yang benar-benar memiliki banyak kesamaan dengan diriku. Memang... dengan adanya orang-orang yang bisa membuat kamu merasa cocok artinya kamu bisa menjadi nyaman berteman dengan orang-orang itu. Padahal dengan banyak perbedaan karakter ketika kamu berteman dengan banyak orang. Mungkin sedikit demi sedikit bisa belajar untuk menolerir karakter manusia yang berbeda-beda
Terkadang ketika berteman dengan banyak orang ada saja hal-hal yang membuatku merasa tidak cocok untuk menjalin pertemanan dengan banyak orang. Meskipun aku bisa menutupi hal tersebut. Tidak mungkin juga ketika aku tidak menyukai salah satu orang terus aku ngomong langsung kalo aku ngga suka sama orang itu, misal si A orangnya dekil, kurus , item. That’s why aku mencoba untuk tidak mengatakan hal seperti itu karena bisa menimbulkan perdebatan. Dan aku sungguh tidak menyukai keributan.
Terkadang ketika berteman dengan banyak orang ada saja hal-hal yang membuatku merasa tidak cocok untuk menjalin pertemanan dengan banyak orang. Meskipun aku bisa menutupi hal tersebut. Tidak mungkin juga ketika aku tidak menyukai salah satu orang terus aku ngomong langsung kalo aku ngga suka sama orang itu, misal si A orangnya dekil, kurus , item. That’s why aku mencoba untuk tidak mengatakan hal seperti itu karena bisa menimbulkan perdebatan. Dan aku sungguh tidak menyukai keributan.
Contoh lain ketika aku tidak ingin ngrumpi atau membicarakan orang, baik tingkah laku, sifat dan cara bicara. Padahal ada niat untuk tidak ngrumpi seperti itu. Alasan ngrumpi karena merasa kesal dan lelah jadi ujung-ujungnya ngrumpiin orang. Salah ngga menurut kalian ketika kita mencoba untuk menjadi orang yang tidak neko-neko. Jujur merasa kurang nyaman aja, pas udah selesai ngrumpiin jadi merasa bersalah meskipun di sisi lain merasa lega karena apa yang ingin diungkapkan jadi tersampaikan. (*note : pas ngrumpiin cerita sama sahabatku).
Jadi kalo menurut pendapatku kecenderungan tiap orang sebenarnya sudah ada dalam satu paket di waktu yang sama. Misal si A berteman dengan si B karena sama-sama hobi menyanyi jadi otomatis si A akan lebih dekat dengan si B karena pembicaraan mereka bisa nyambung. Nah.. dalam pembicaraan itu pasti minimal ada subjek dan predikat yang menjadi bahan obrolan mereka. Contoh subjek C, predikat menyanyi. Pasti mereka akan beropini dari sudut pandang masing-masing terkait subjek daan objek itu. Baik dilihat dari sisi fisik si objek atau suara si objek ketika menyanyi. Nah... kecenderungan seperti itulah yang aku maksud. Manusia tidak bisa terlepas dari yang namanya kecenderungan. Kecenderungan itu hal yang alami dan lumrah menurutku. Kita bisa menolerir hal itu jika bisa memahami kecenderungan itu yang bagaimana dan dalam aspek apa.
Jika kecenderungan itu merupakan hal yang alamiah dan normal selama masih batas wajar dan ngga neko-neko. Mungkin itu masih bisa ditolerir. Namun, jika kecenderungan itu mengarah pada hal yang tidak baik, tidak sewajarnya dan tidak sepatutnya dilakukan. Tentu itu bukanlah kecenderungan yang bisa ditolerir bahkan termasuk yang perlu ditangani dikarenakan bisa membahayakan diri sendiri dan juga oraang yang berada di sekitarnya. Misal : orang yang tidak sengaja makan makanan yang ternyata mengandung narkoba tentu orang tersebut akan cenderung dan terus menerus mengonsumsi narkoba. Nah... inilah yang aku maksud untuk kecenderungan yang tidak bisa ditolerir.
Sekian untuk topik kali ini. Cerita di atas sangat banyak opini yang subjektif jadi mohon maaf jika ada salah kata atau kalimat yang kurang pas di hati readers. Maaf juga kalo judul dan isinya kurang nyambung. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Terima kasih buat yang sudah menyempatkan membaca ceritaku.
0 comments:
Posting Komentar