Cuplikan #1


Tokoh Figuran


Darimana aku harus memulai tulisan ini? Bodohnya kenapa aku menanyakan hal itu di awal tulisan? Sangat tidak lucu ya? Mari kita mulai, anggap saja aku sedang ber-halu ditulisan ini. Aku menyadari bahwa segala hal yang terjadi padaku terkadang terlalu tiba-tiba dan belum siap untuk aku hadapi. Kenapa? ya tentunya kita sudah membuat daftar rentetan rencana yang sekiranya bisa berjalan dengan baik tetapi malah sebaliknya. Apa yang direncanakan terkadang memang tidak sesuai ekspektasi. Memang kita seharusnya hanya berusaha selayaknya tokoh yang sedang berperan dalam kehidupan. Begitulah, kita tidak asing bukan mendengar kalimat bahwa dunia ini merupakan panggung sandiwara. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan tidak lupa untuk berdoa. Tentu... dalam menjalankan peran di kehidupan kadang kala aku merasa menjadi tokoh yang dikesampingkan dan sering diabaikan. Layaknya sebuah drama dimana tokoh utama yang selalu mendapat perhatian dan pujian. Sejujurnya, bukan persoalan tentang perhatian atau segala tetek bengeknya. Memang tokoh utama selalu disoroti dengan cahaya matahari. Lantas bagaimana dengan tokoh figuran? Haha pasti tau sendirilah. Di saat tokoh utama sedang beraksi di stage, semua penonton hanya akan tertuju dengan tokoh utama. Aneh si kenapa aku membahas tokoh figuran. Di waktu tertentu beberapa proses kehidupan berjalan dengan semestinya. Tapi ada kalanya aku menjadi tokoh figuran dalam drama kehidupan seseorang. Sungguh ironi bukan? Aku tidak bisa mengubah diriku sendiri untuk menentukan takdirku sendiri ketika bersinggungan dengan drama kehidupan seseorang. Aku yakin setiap orang punya cerita masing-masing dengan kehidupannya. Dan aku pikir, setiap orang akan menjadi tokoh utama dalam cerita kehidupannya masing-masing. Entahlah akupun mulai bingung melanjutkan tulisan ini. Jadi sebenarnya apa yang sedang aku tulis?
        Aku bukanlah tipikal manusia yang suka mendapat perhatian di tengah kerumunan banyak orang. Tetapi aku kesal ketika ceritaku bersinggungan ataupun tidak dengan orang lain tetapi aku mengalami banyak kejadian. kenapa hal itu bisa terjadi dan membuatku selalu bertanya-tanya kesalahan apa yang aku lakukan? Kenapa disaat aku ingin mengubahnya aku tidak bisa melakukan hal itu? Aku pikir ini bisa menjadi salah satu challange. Setiap cerita kehidupan masing-masing manusia juga punya tantangannya sendiri. Tetapi aku benci jika beberapa challange membuatku terjebak pada box yang tertutup dan rapat yang membuatku sesak. Maaf terlihat berlebihan. Bagiku bisa melewati hari demi hari dengan perasaan senang dan bahagia itu menjadi salah satu kemajuan kecil. Bagaimana aku harus menjelaskan hal ini? Balik lagi ke topik tentang tokoh figuran. Aku hanya ingin mengubah takdirku dikala aku berada dalam drama kehidupan orang lain. Karena disaat aku berada dalam lingkaran drama kehidupan seseorang, sebagai tokoh figuran tidak begitu banyak hal yang bisa dilakukan. Mungkin jika aku tidak menyadari bahwa aku sebagai bagian dari pemeran dalam drama kehidupan seseorang. Aku akan merasa lebih baik dan menjalani kehidupan seperti biasanya, tanpa memkirkan hal konyol seperti ini. Ketika aku mulai menyadari bahwa ternyata aku menjadi tokoh figuran yang tidak bisa menentukan nasibku sendiri pastinya akan melelahkan dan menjengkelkan. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mencoba dan mengubah suatu ketidakmungkinan menjadi mungkin. Meskipun kemungkinan kecil dan aku bukan tokoh utama. Tapi setiap manusia mempunyai preferensi dan cara masing-masing untuk survive dan membuat ceritanya sendiri. Dan aku yakin setiap orang bisa mengubah takdirnya. Abaikanlah tulisan dari awal sampe akhir. Kelihatan absurd ya? Namanya juga halu. 


0 comments:

Posting Komentar