Sebuah Pertemanan #2
Aku heran saja dengan pertemanan seseorang yang membuatku bertanya-tanya. Terkadang sebuah pertemanan menjadikan keobjektifitasan seseorang menjadi melemah. Sejujurnya aku kurang mengerti mengapa membela teman mereka meskipun mereka itu salah. Bukankah akan lebih baik jika kita memberitahu apa kesalahan mereka dan menunjukkan suatu hal yang benar? Memang tidak mudah untuk berucap kata yang mungkin bisa menyinggung perasaan seseorang. Akan tetapi, jika itu untuk kebaikan, kenapa tidak? Kita tidak perlu untuk mengumbar kesalahan itu, tetapi cukup dengan pendekatan secara interpersonal.
Di sisi lain, tidaklah mudah untuk menahan diri untuk tidak berkata kasar ketika mendapati seorang teman yang sedang berusaha menutupi kesalahan temannya. Meskipun begitu aku mencoba untuk memahami dan menghargai sikap mereka, cara mereka untuk melindungi harga diri temannya dan mungkin makna sebuah pertemanan bagi mereka. Pastinya teman terdekatlah yang mengetahui kondisi kita yang sebenarnya.
Suatu waktu aku merasa lelah menghadapi orang-orang yang terlalu mendominasi dalam sebuah kelompok. Aku berusaha mengerti jika kecenderungan dalam berteman tentu akan membuat jaring-jaring pertemanan yang lebih luas dan membentuk sebuah kelompok. Namun, esensi dari sebuah pertemanan bukanlah dilihat dari kuantitas tapi kualitas. Memang betul jika semakin banyak teman akan semakin mudah untuk mendapatkan informasi. Mungkin bisa saja aku salah menilai. Tapi dari apa yang aku ketahui bahwa kualitas dalam pertemanan lebih berharga daripada jumlah teman yang begitu banyak dan tidak ada seseorang yang benar-benar menjadi teman terdekat.
0 comments:
Posting Komentar