Sudut Pandang Ayah

Pembelaan yang Tertolak


Kejadian itu bermula saat aku sedang ada diskusi dengan beberapa teman. Itu merupakan diskusi dadakan yang bahkan aku tak tahu jika akan berujung dengan luapan amarah dari masing masing personal. Siapa yang tahu jika hari itu akan menunjukkan sisi sesungguhnya dari seorang leader? Wah.... sungguh di luar dugaanku.

Setiap permasalahan bisa dibicarakan baik-baik tanpa perlu dengan berteriak keras dan menunjukkan kekuasaan orang tersebut. Ironi sekali melihat seseorang berlagak seperti itu.

Ketika seseorang dalam kondisi marah dan berteriak juga seolah olah dirinya membuktikan sebagai orang yang paling kuat dan ditakuti. Menurutku tidak tampak seperti itu tetapi malah terlihat seperti orang yang menyedihkan.

Suatu waktu, aku menceritakan kejadian itu pada ayahku. Sungguh di luar pemikiranku. Aku berharap jika ayahku akan membelaku dan mendukung pendapatku. Tetapi, sebaliknya ayahku hanya mengatakan bahwa " itulah kehidupan". "Hidup tidak hanya mengenal satu atau dua orang, satu desa atau lain desa, tetapi lebih dari. Setiap hari, bertemu dengan orang dan berinteraksi dengan orang. Setiap orang punya karakter yang berbeda. Itulah hal yang menguji setiap orang. Bagaimana cara kita menanggapi karakter orang yang berbeda. Itulah hal yang akan menjadi pelajaran hidup". Kurang lebih ayahku berkata demikian.

Aku mengira, ayahku akan berada di pihakku dan akan mengkritik orang yang aku ceritakan. Tetapi dugaanku salah besar. Ayahku justru menasehatiku. Bahwa itu adalah bagian dari kehidupan.

Sepertinya, kejadian saat itu menjadi secuil pelajaran baru yang aku dapatkan.

0 comments:

Posting Komentar